Penelitian

Stop Menyalahkan Banjir, Warga Songgon 'Gas' Bikin Biopori Sendiri

06 November 2025 | 134 views | NAWAL IKA SUSANTI
Stop Menyalahkan Banjir, Warga Songgon 'Gas' Bikin Biopori Sendiri

Banjir sudah jadi "langganan" di Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Setiap kali hujan deras turun, warga harus siap-siap menghadapi genangan air. Penyebabnya klasik: curah hujan yang tinggi, sistem drainase yang kewalahan, dan semakin berkurangnya lahan terbuka hijau yang beralih fungsi jadi pemukiman.

Alih-alih hanya pasrah atau menunggu bantuan, warga Songgon memutuskan untuk bergerak. Sebuah program pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh M. Rizqon Al Musafiri dan Nawal Ika Susanti memfasilitasi solusi cerdas yang berbasis komunitas: pelatihan pembuatan biopori dan sumur resapan.

Kerennya, program ini tidak memakai pendekatan "proyek" yang top-down. Mereka menggunakan metode Asset-Based Community Development (ABCD).

Apa Itu Metode ABCD?

Metode ABCD adalah sebuah pendekatan pemberdayaan yang fokusnya bukan pada "masalah" atau "kekurangan" komunitas, tapi pada "aset" dan "kekuatan" yang sudah mereka miliki.

Program ini dijalankan melalui 5 tahapan (diadaptasi dari model 4D: Discovery, Dream, Design, Destiny):

1. Discovery (Menemukan Aset Tersembunyi) Tahap pertama adalah "investigasi" aset lokal melalui survei, wawancara, dan FGD. Apa yang ditemukan di Songgon?

  • Aset SDM: Semangat gotong royong masyarakatnya masih sangat tinggi. Ini adalah modal sosial termahal.

  • Aset SDA: Ketersediaan lahan di sekitar rumah dan kebun masih luas. Bahan organik seperti daun kering dan sisa pertanian melimpah (cocok untuk isi biopori).

  • Aset Infrastruktur: Ada fasilitas umum seperti kantor desa dan sekolah yang bisa dipakai untuk lokasi pelatihan.

  • Aset Kearifan Lokal: Warga ternyata sudah punya kebiasaan membersihkan selokan secara rutin dan menanam pohon di sekitar rumah.

2. Dream (Merajut Visi Bersama) Setelah tahu "modal" apa yang dimiliki, warga diajak bermimpi. Lewat diskusi, mereka merumuskan visi bersama untuk lingkungan mereka di masa depan. Impian mereka sederhana tapi kuat: menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas banjir , serta meningkatkan ketersediaan air bersih saat musim kemarau.

3. Design (Merancang Aksi ala Warga) Dengan modal semangat gotong royong dan visi yang jelas, warga mulai merancang program mereka sendiri (secara partisipatif, tentunya). Rancangannya adalah mengadakan pelatihan teknis tentang cara membuat biopori dan sumur resapan yang benar dan efisien.

4. Define (Eksekusi dan Mobilisasi) Ini adalah tahap "kerja bakti" yang terorganisir.

  • Bentuk Tim Kerja: Dibentuk tim yang terdiri dari perwakilan warga, perangkat desa, dan fasilitator.

  • Pelatihan: Warga diberi pelatihan teori dan praktik. Mereka belajar konsep dasar biopori (lubang resapan vertikal) dan sumur resapan (struktur penampung air) , cara memilih lokasi, menggali, memasang pipa, hingga cara mengelola sampah organik untuk isian biopori.

  • Pendampingan: Fasilitator tidak hanya mengajar lalu pulang. Mereka melakukan pendampingan intensif, membimbing warga selama proses pembuatan di lokasi yang sudah ditentukan.

  • Pengadaan Bahan: Bahan-bahan seperti pipa PVC, alat pengebor, dan bahan organik diadakan secara kolaboratif.

5. Destiny (Menjaga Keberlanjutan) Tahap terakhir adalah memastikan program ini "panjang umur", bukan cuma hangat-hangat tahi ayam. Dilakukan monitoring dan evaluasi berkala untuk mengukur efektivitasnya. Hasilnya? Puluhan biopori dan beberapa sumur resapan berhasil dipasang di titik-titik target. Intervensi ini terbukti membantu mengurangi limpasan air permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.

Kisah dari Songgon ini membuktikan bahwa solusi masalah lingkungan yang paling efektif seringkali datang dari komunitas itu sendiri. Pendekatan ABCD berhasil memobilisasi aset lokal (terutama semangat gotong royong) dan mengubah warga dari "korban" banjir menjadi "aktor" mitigasi bencana.