Publikasi

Belajar Geografi Nggak Cuma Hafalan Peta! Menggali Kearifan Lokal Suku Using Banyuwangi di Kelas

11 April 2025 | 895 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Belajar Geografi Nggak Cuma Hafalan Peta! Menggali Kearifan Lokal Suku Using Banyuwangi di Kelas

Dengar kata "Geografi", bayangan Anda apa? Hafalan nama ibu kota? Peta buta? Daftar nama gunung dan sungai? Wajar jika banyak siswa menganggap Geografi itu "pelajaran hafalan" yang membosankan.

Padahal, Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dengan lingkungannya. Ini adalah ilmu tentang kehidupan. Dan cara terbaik mempelajarinya adalah dengan "membaca" kehidupan itu sendiri.

Sebuah penelitian menarik dari M. Rizqon Al Musafiri, Sugeng Utaya, dan I Komang Astina dari Pascasarjana Universitas Negeri Malang menawarkan cara belajar Geografi yang jauh lebih seru: menjadikan kearifan lokal Suku Using di Banyuwangi sebagai sumber belajar.

Kenapa Suku Using?

Suku Using adalah masyarakat asli Kabupaten Banyuwangi yang mendiami Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Mereka adalah "perpustakaan hidup" yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Kearifan lokal mereka adalah "buku teks" Geografi yang otentik.

Penelitian ini membedah bagaimana kearifan lokal Suku Using bisa menjadi materi belajar yang konkret.

'Membaca' Geografi dari Kehidupan Suku Using

1. Pelajaran dari Arsitektur (Geografi Pemukiman & Sosial) Rumah adat Using adalah cerminan adaptasi manusia terhadap lingkungan.

  • Adaptasi Lingkungan: Strukturnya menggunakan 4 tiang kayu lokal (seperti Bendo, Tanjung, Cempaka) dengan sistem pasak (tanpa paku). Dindingnya dari gedheg (anyaman bambu) dan lantainya tanah. Uniknya, ada jarak antara tanah dan dinding (5-10 cm) sehingga rumah ini tahan binatang pengerat dan awet puluhan tahun.

  • Geografi Sosial: Ada tiga bentuk atap rumah adat: Cerogogan, Baresan, dan Tikel Balung. Ini bukan sekadar desain. Bentuk atap ini menunjukkan kesetaraan. Tidak ada hierarki atau stratifikasi sosial yang kaku di masyarakat Using.

2. Pelajaran dari Kesenian (Geografi Budaya & Religi) Kesenian Using bukanlah sekadar hiburan, tapi ritual yang sarat makna:

  • Gandrung: Tarian selamat datang yang mewujudkan kegembiraan dan kebersamaan.

  • Barong Ider Bumi: Dilaksanakan tiap tanggal 2 Syawal. Ini adalah upacara tolak bala untuk mengusir pengaruh jahat dan memohon keselamatan. Ini nilai religius.

  • Kebo-keboan: Upacara bersih desa dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

3. Pelajaran dari Pola Pemukiman (Geografi Pemukiman) Tata letak desa mereka tidak acak. Pemukiman Desa Kemiren cenderung linier, mengikuti jalan utama. Tapi ada aturan kosmiknya: rumah harus menghadap jalan (lurung), tapi tidak boleh menghadap gunung (pengaruh kepercayaan Hindu Siwa). Posisi masjid pun dipilih di lokasi tertinggi di desa, menunjukkan prioritas nilai mereka.

4. Pelajaran dari Pertanian (Geografi Pertanian & Lingkungan) Masyarakat Using mayoritas bertani. Mereka punya 9 prosesi ritual dalam budidaya padi , mulai dari dhawuhan (memulai) sampai ngunjal (panen). Ini adalah wujud rasa syukur pada Tuhan dan cara mereka mencintai lingkungan. Mereka mengatur pola tanam sesuai alam, menanam padi dua kali setahun untuk mengembalikan keseimbangan tanah.

'Nyambung' dengan Kurikulum

Nilai-nilai yang tergali—Religius , Cinta Lingkungan , Gotong Royong , Kreatif , dan Tanggung Jawab —ternyata sangat cocok dengan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Geografi di Kurikulum 2013.

Contohnya, KD 3.6 Kelas XI adalah "Menganalisis bentuk-bentuk kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam bidang pertanian, ...". Sembilan prosesi tanam padi Suku Using adalah contoh nyatanya!

Penelitian ini membuktikan bahwa belajar Geografi bisa jadi petualangan budaya. Ini adalah cara mengajar yang tidak hanya mencerdaskan otak, tapi juga menanamkan karakter dan cinta pada budaya sendiri.