Bagi warga Kecamatan Songgon di Banyuwangi, musim hujan kadang bikin was-was. Saat hujan turun deras, air sering meluap. Masalahnya klasik: curah hujan tinggi, tapi saluran drainase yang ada tidak sanggup menampung semua air itu. Hasilnya? Banjir dan genangan jadi "tamu" langganan.
Biasanya, orang mungkin akan pasrah menunggu bantuan atau menyalahkan keadaan. Tapi, warga Songgon, dibantu oleh tim akademisi (M. Rizqon Al Musafiri dan Nawal Ika Susanti), memutuskan untuk mengambil jalan lain. Mereka memilih untuk "turun tangan" dan memberdayakan diri sendiri.
Solusinya? Sederhana tapi jenius: Biopori dan Sumur Resapan.
Kenalan dengan "Jurus Anti Banjir" ala Warga
Apa itu biopori dan sumur resapan? Anggap saja keduanya adalah "jebakan air" cerdas.
Biopori: Ini adalah lubang-lubang vertikal yang dibuat di tanah. Lubang ini diisi sampah organik (seperti daun kering) untuk mengundang cacing dan mikroorganisme. Mereka akan membuat terowongan-terowongan kecil di dalam tanah. Hasilnya, tanah jadi "gembur" dan punya kemampuan super untuk menyerap air hujan. Air tidak menggenang di permukaan, tapi langsung "diparkir" ke dalam tanah.
Sumur Resapan: Ini seperti "bak tandon" raksasa di dalam tanah. Fungsinya menampung air hujan dari atap atau jalanan, lalu meresapkannya pelan-pelan ke dalam tanah.
Idenya adalah, daripada membiarkan air hujan terbuang percuma dan menyebabkan banjir, lebih baik "ditabung" di dalam tanah. Ini tidak hanya mencegah banjir, tapi juga sekaligus mengisi ulang cadangan air tanah.
Bukan Proyek "Satu Malam", Ini Pemberdayaan!
Yang menarik dari kegiatan di Songgon ini bukanlah sekadar membuat lubang. Tim pengabdian masyarakat ini tidak datang, menggali, lalu pulang. Mereka menggunakan metode keren bernama ABCD (Asset-Based Community Development).
Kedengarannya rumit, ya? Padahal, artinya simpel: "Pemberdayaan Berbasis Aset".
Alih-alih fokus pada "Apa yang kurang?" (misal: kurang dana, kurang alat), pendekatan ini fokus pada "Apa yang sudah kita PUNYA?". Ini mengubah total cara pandang warga.
Prosesnya dibagi jadi beberapa tahap santai:
Discovery (Menemukan Harta Karun): Tim dan warga kumpul bareng, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mencari "harta karun" tersembunyi. Apa itu? Ternyata, aset terbesar mereka adalah semangat gotong royong yang masih kuat dan adanya lahan-lahan kosong yang bisa dimanfaatkan.
Dream (Mimpi Bareng): Setelah tahu kekuatannya, warga diajak bermimpi. "Bayangkan, seandainya Songgon bebas banjir, enaknya kayak apa, ya?" Mimpi bersama ini melahirkan tujuan yang sama.
Design (Merancang Rencana): Mimpi tadi "dibedah" jadi rencana aksi. "Oke, kita butuh berapa biopori? Mau ditaruh di mana saja? Siapa yang bagian menggali? Siapa yang siapkan pipa?"
Destiny (Aksi Nyata!): Ini adalah puncaknya. Rencana dieksekusi bersama-sama.
Dari Teori Jadi Aksi: Pelatihan dan Gotong Royong
Inilah bagian serunya. Tim pengabdian tidak hanya "menyuruh", tapi memberi pelatihan lengkap:
Sosialisasi: Warga dikumpulkan dan diajak ngobrol santai. Mereka dijelaskan apa manfaat biopori dan sumur resapan. Banyak yang baru sadar, "Oh, ternyata segampang itu, ya?"
Demonstrasi: Tim menunjukkan langsung cara membuatnya. "Nih, cara pakai bor bioporinya begini. Cara pasang pipanya begini." Warga melihat, bertanya, dan jadi paham.
Pendampingan & Praktik: Warga langsung membentuk kelompok dan praktik. Ada yang mengukur, ada yang mengebor tanah, ada yang memasang pipa. Semua dikerjakan bareng-bareng, dibimbing langsung sampai bisa.
Hasilnya? Bukan Cuma Lubang, Tapi Kebanggaan
Setelah program selesai, hasilnya sangat nyata. Warga Songgon berhasil membangun:
20 titik biopori
5 unit sumur resapan
Puluhan "jebakan air" ini sekarang tersebar di titik-titik rawan genangan.
Tapi, hasil terpentingnya bukan cuma jumlah lubang. Yang lebih berharga adalah:
Warga Jadi Punya Skill: Sekarang, warga Songgon punya ilmu dan keahlian baru. Mereka bisa membuat biopori dan sumur resapan sendiri kapanpun dibutuhkan.
Warga Jadi Berdaya: Ini yang paling mahal. Warga jadi sadar bahwa mereka punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Mereka tidak lagi pasif menunggu, tapi aktif mencari solusi.
Kisah dari Songgon ini adalah bukti nyata bahwa semangat gotong royong yang dipadukan dengan ilmu yang tepat bisa menjadi senjata ampuh melawan bencana. Mereka tidak hanya membuat lubang di tanah, mereka sedang membangun ketangguhan untuk masa depan.