Publikasi

Siswa SMA 'Jenuh' Belajar? Ternyata Kesejahteraan Mental Biang Keroknya

06 November 2025 | 146 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Siswa SMA 'Jenuh' Belajar? Ternyata Kesejahteraan Mental Biang Keroknya

Merasa burnout atau jenuh belajar di masa SMA itu wajar. Tapi, bagaimana jika rasa jenuh itu sudah sampai di level "mengganggu"? Sebuah penelitian terbaru oleh M. Rizqon Al Musafiri di SMA NU Genteng menemukan fakta yang cukup mengejutkan: 63,8% siswa kelas XII mengalami kejenuhan akademik (academic burnout) dalam kategori tinggi.

Ini bukan sekadar "malas biasa". Kejenuhan akademik adalah kondisi kelelahan emosional, depersonalisasi (merasa asing dengan lingkungan), dan merasa tidak punya pencapaian pribadi di sekolah. Gejalanya? Merasa tugas tidak ada maknanya, letih, kurang semangat, merasa gagal, dan tidak peduli lagi dengan urusan akademik.

Lalu, apa biang keroknya? Penelitian yang melibatkan 207 siswa ini menyorot dua faktor krusial yang sering kita abaikan: Psychological Well-Being (PWB) dan Subjective Well-Being (SWB).

Kenapa Kesejahteraan Mental Penting?

Masa SMA adalah masa transisi dari remaja ke dewasa. Tekanan bisa datang dari mana saja: akademis (tugas, ujian), sosial (pergaulan), dan emosional. Jika siswa tidak punya "bantalan" mental yang kuat, mereka rentan tumbang.

Penelitian ini menemukan bahwa PWB dan SWB memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejenuhan akademik. Gampangnya, PWB dan SWB ini adalah "vaksin" anti-jenuh. Semakin tinggi PWB dan SWB seorang siswa, semakin rendah tingkat kejenuhan akademiknya.

Lalu, apa bedanya PWB dan SWB?

1. Psychological Well-Being (PWB): "Hidupku Punya Tujuan" PWB adalah soal seberapa positif kita memandang diri sendiri dan hidup. Ini adalah tentang kesehatan mental yang lebih dalam. Menurut teori yang digunakan (Ryff & Keyes), PWB mencakup 6 hal:

  1. Bisa menerima diri sendiri (plus minusnya).

  2. Terus berusaha mengembangkan kualitas diri.

  3. Punya tujuan hidup yang jelas.

  4. Bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain.

  5. Mandiri.

  6. Bisa memilih atau menciptakan lingkungan yang sesuai kebutuhan.

Anehnya, dalam penelitian ini, 55,4% siswa justru memiliki PWB yang tinggi. Artinya, mayoritas siswa merasa punya tujuan dan optimis. Tapi kok tetap burnout? Jawabannya ada di faktor kedua.

2. Subjective Well-Being (SWB): "Aku Bahagia Nggak, Sekarang?" Jika PWB adalah tentang "tujuan", SWB adalah tentang "rasa". SWB mengacu pada persepsi kita tentang kepuasan hidup dan kebahagiaan saat ini. Sederhananya: apakah kamu merasa senang dan puas dengan hidupmu hari ini?

Dan di sinilah letak masalahnya. Penelitian ini menemukan fakta mencengangkan: 61,8% siswa memiliki SWB yang rendah!.

Ini adalah kepingan puzzle yang hilang. Siswa mungkin merasa punya tujuan jangka panjang (PWB tinggi), tapi mereka tidak merasa bahagia atau puas dengan kondisi mereka saat ini (SWB rendah). Kombinasi inilah yang memicu kejenuhan. Tuntutan tugas yang menumpuk, berada di kelas akhir, dan berbagai aktivitas lainnya memicu stres, yang akhirnya menggerus kebahagiaan harian mereka.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Fakta bahwa PWB dan SWB menyumbang 44,5% pengaruh terhadap kejenuhan akademik menunjukkan bahwa ini masalah serius.

Keluarga punya peran penting. Komunikasi yang terbuka dan hubungan emosional yang baik di rumah terbukti meningkatkan SWB siswa. Saat remaja tidak merasa terkekang di rumah, interaksi sosial dan SWB mereka meningkat.

Tapi, sekolah tidak bisa lepas tangan. Sekolah perlu paham bahwa kesehatan mental siswa berdampak langsung pada prestasi. Jika PWB siswa terganggu, interaksi sosialnya rendah dan nilainya cenderung turun.

Penelitian ini merekomendasikan agar sekolah menyediakan layanan konseling yang representatif. Guru Bimbingan Konseling (BK) harus berperan aktif membantu siswa mengatasi tekanan ini , mempromosikan budaya positif, dan memberikan dukungan sosial di lingkungan sekolah. Karena pada akhirnya, nilai bagus tidak ada artinya jika diraih dengan mental yang rapuh.