Penelitian

Santri 'Baper' Gara-Gara Nggak Libur? 'Terapi Novel' Jadi Jawabannya

06 June 2024 | 91 views |
Santri 'Baper' Gara-Gara Nggak Libur? 'Terapi Novel' Jadi Jawabannya

Kehidupan di pondok pesantren itu unik. Disiplin tinggi, kegiatan padat, dan aturan yang ketat. Namun, ada satu hal yang bisa jadi pemicu stres berat bagi santri: tidak ada liburan.

Di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, Banyuwangi, kebijakan peniadaan Libur Maulid (apalagi ditambah kondisi pandemi saat itu) membuat banyak santri mengalami kecemasan. Bayangkan saja, setahun penuh berada di pondok , tidak bisa pulang, tidak boleh memegang alat elektronik , dan jadwal telepon dengan orang tua pun terbatas.

Apa yang terjadi? Muncul gejala-gejala kecemasan: santri jadi murung, malas belajar, tidak fokus, bosan, khawatir berlebihan , bahkan ada yang berniat nekat keluar kampus tanpa izin.

Lalu, apa solusinya jika gadget dilarang dan healing (liburan) tidak memungkinkan? Sebuah penelitian kualitatif oleh Richa Hulyatuzzahroh dan M. Rizqon Al Musafiri menguji sebuah teknik sederhana: Biblioterapi, atau terapi baca buku.

Apa Itu Biblioterapi?

Biblioterapi adalah penggunaan buku atau bahan bacaan sebagai media terapi untuk mengatasi masalah pribadi. Ini bukan sekadar "membaca biasa". Ini adalah proses terpandu yang menggunakan buku untuk membantu seseorang memahami masalahnya dan menemukan solusi.

Dalam konteks pesantren yang ketat aturan elektronik, novel (buku fisik) menjadi media "pelarian" yang paling mungkin dan aman.

Proses Terapi Novel pada 3 Santri

Penelitian ini mengambil studi kasus pada tiga santriwati (Informan A, B, dan C) yang menunjukkan gejala kecemasan. Proses terapinya dibagi menjadi beberapa tahap:

1. Tahap Good Raport (Pendekatan) Peneliti tidak langsung menyodorkan buku. Tahap pertama adalah membangun hubungan baik. Peneliti mendengarkan curhatan para santri untuk menciptakan rasa nyaman.

  • Informan A curhat: "Saya cemas, bingung, bosan... 1 tahun full di pondok. Mau pulang ya gak boleh... Saya cenderung menyendiri."

  • Informan B curhat: "Rasanya pengen pulang, bosan... jenuh kegiatannya cuma gini-gini aja. Pengen curhat ya susah, telfon dijadwal 1 minggu 2 kali, belom lagi kalo antri."

  • Informan C curhat: "Bosen mbak... jenuh, rasa bosan, khawatir, males mau melakukan kegiatan... Tapi saya biasanya kalo udah bosen... saya mulai mencari buku bacaan."

2. Tahap Identifikasi & Memperkenalkan Buku Setelah memahami masalah mereka, peneliti menawarkan beberapa pilihan buku yang sekiranya cocok. Buku yang ditawarkan adalah novel, termasuk "Hati Suhita", "Galaxy", dan "Pergi" karya Tereliye. Para santri dibebaskan memilih sesuai minat mereka.

  • Informan A memilih "Hati Suhita" (karena suka genre romantis berlatar pesantren).

  • Informan B memilih "Galaxy" (tertarik dengan ceritanya).

  • Informan C memilih novel karya Tereliye (karena memang hobi membaca).

3. Tahap Strategi Tindak Lanjut (Diskusi) Setelah santri selesai membaca, peneliti mengajak mereka berdiskusi lagi. Apa yang mereka rasakan?

  • Informan A (Hati Suhita): "Alhamdulillah saya merasa lumayan berkurang beban yang ada di fikiran saya... Dan sekarang saya ingin membaca novel-novel yang lainnya."

  • Informan B (Galaxy): "Alhamdulillah setelah membaca novel saya merasa lebih ringan, lebih merasa fresh dari yang sebelumnya... ketimbang saya tidur ngelamun... mending membaca buku."

  • Informan C (Tereliye): "Setelah membaca novel tentu saya merasa lebih fresh, lebih percaya diri, lebih terarah, lebih semangat untuk melakukan kegitan-kegiatan yang ada dipondok pesantren."

Kenapa Membaca Bisa Menyembuhkan?

Hasilnya jelas: Biblioterapi (terapi novel) terbukti efektif mengurangi tingkat kecemasan ketiga santri tersebut.

Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa biblioterapi memiliki beberapa manfaat inti:

  1. Memberi Relaksasi dan Pengalihan: Membaca novel memindahkan fokus santri dari rasa bosan dan khawatir ke alur cerita yang menarik.

  2. Membantu Lebih Fokus: Ini adalah pengalihan yang produktif, lebih baik daripada melamun atau tidur.

  3. Mengembangkan Empati dan Kesadaran Diri: Dengan "masuk" ke dunia karakter, santri bisa memahami tingkah laku, meringankan emosi, dan sadar bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi masalah.

Di tengah keterbatasan yang ada di pesantren, teknik sederhana ini bisa menjadi alat yang sangat kuat bagi konselor atau pengurus untuk membantu menjaga kesehatan mental para santri.