Perbankan syariah di Indonesia tumbuh pesat. Dengan sistem bagi hasil dan label "bebas riba", target pasarnya jelas: masyarakat Muslim yang ingin transaksinya sesuai syariat. Lingkungan akademis Islam, seperti dosen di perguruan tinggi Islam, seharusnya menjadi "konsumen" paling loyal, bukan?
Ternyata, tidak sesederhana itu.
Sebuah penelitian kuantitatif oleh M. Rizqon Al Musafiri di Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi mencoba mengurai teka-teki ini. Apa yang sebenarnya mendorong (atau menghalangi) perilaku konsumen dalam memilih tabungan syariah?
Penelitian ini berfokus pada dua faktor kunci:
Persepsi (X1): Apa yang ada di pikiran konsumen? Bagaimana pemahaman mereka tentang produk, informasi, dan interpretasi bank syariah?
Sikap (X2): Apa yang ada di hati konsumen? Apakah mereka "suka", yakin, dan percaya pada bank syariah?
Jawabannya mungkin akan mengejutkan Anda.
'Aha!' Momen: Persepsi Mengalahkan Sikap
Kita mungkin berpikir bahwa jika seseorang punya "sikap" positif (suka) pada bank syariah, mereka pasti akan "berperilaku" (menabung) di sana.
Namun, penelitian ini menemukan fakta sebaliknya. Setelah data dari 30 responden diolah, hasilnya jelas: Persepsi (X1) adalah variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku konsumen.
Lihat angkanya:
Pengaruh Persepsi (X1) terhadap Perilaku (Y) adalah 78,32%.
Pengaruh Sikap (X2) terhadap Perilaku (Y) "hanya" 49,00%.
Apa Artinya Ini?
Ini berarti, apa yang ada di pikiran dosen (persepsi) jauh lebih kuat mendorong mereka untuk membuka rekening daripada apa yang ada di hati mereka (sikap).
Seseorang mungkin secara sikap "suka" dengan ide bank syariah, setuju bahwa riba itu haram, dan percaya layanannya sopan. Tapi, jika di kepala mereka tertanam persepsi seperti:
"Ah, bank syariah sama saja dengan konvensional, cuma ganti istilah."
"Produknya rumit dan tidak sekompetitif bank sebelah."
"Informasi yang diberikan tidak jelas, bagi hasilnya juga kecil."
...maka "sikap" positif tadi tidak akan berujung pada "perilaku" membuka rekening. Inilah yang terjadi. Penelitian ini mengkonfirmasi adanya dosen yang melek syariah, namun beranggapan bahwa bank syariah dan konvensional pada praktiknya sama saja.
Persepsi ini diperburuk oleh tantangan yang memang ada, seperti SDM bank syariah yang dinilai belum optimal dan pengetahuan masyarakat yang masih terbatas.
PR Terbesar Bank Syariah: Edukasi, Bukan Cuma Branding
Temuan ini adalah masukan berharga bagi industri perbankan syariah. Selama ini, marketing mungkin terlalu fokus pada branding untuk membangun "sikap" positif (menciptakan citra yang ramah, sopan, dan Islami) .
Padahal, PR terbesarnya ada di edukasi untuk membangun "persepsi" yang benar.
Bank syariah harus bisa menjelaskan dengan jernih apa yang membuat mereka benar-benar berbeda dari bank konvensional (selain istilah).
Mereka harus transparan soal produk, cara kerja bagi hasil, dan membuktikan bahwa mereka real syariah, bukan sekadar "syariah-syariahan".
Jika persepsi konsumen (bahkan di kalangan dosen kampus Islam) sudah lurus dan mereka "paham" akan keunggulannya, maka perilaku memilih tabungan syariah akan mengikuti secara alami. Karena pada akhirnya, di era informasi ini, pemahaman (perception) adalah raja.