Penelitian

Kuliah Ekonomi Kaget Ketemu Matematika? Studi Ini Buktikan Praktek Langsung Bikin Paham Analisis BEP

26 June 2025 | 196 views | NAWAL IKA SUSANTI
Kuliah Ekonomi Kaget Ketemu Matematika? Studi Ini Buktikan Praktek Langsung Bikin Paham Analisis BEP

Masuk jurusan ekonomi, apalagi Ekonomi Syariah, banyak yang mengira akan fokus pada teori, hafalan, dan studi kasus sosial. Bayangannya, akhirnya bisa "bebas" dari rumus dan hitung-hitungan yang bikin pusing.

Eh, begitu masuk semester satu... "Loh, kok ada mata kuliah Matematika?"

Ini adalah realita yang sering ditemui. Banyak mahasiswa baru kaget saat sadar bahwa ilmu ekonomi ternyata masih sangat erat kaitannya dengan matematika. Awalnya bingung, merasa sulit, bahkan ada yang mengaku sudah lupa total dengan materi fungsi yang diajarkan waktu di bangku SMA.

Tapi, benarkah matematika di jurusan ekonomi seseram itu? Sebuah studi menarik dari Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) Blokagung Banyuwangi punya jawaban yang melegakan. Kuncinya bukan pada jago-jagoan rumus, tapi pada penerapannya di dunia nyata.

Studi ini fokus pada salah satu "jurus" wajib di ilmu ekonomi: Analisis Break-Even Point (BEP).

Apa Sih Sebenarnya Analisis BEP (Titik Impas) Itu?

Bayangkan Anda baru membuka usaha kedai kopi. Anda tentu bertanya: "Saya harus jual berapa cup kopi hari ini supaya minimal modal saya balik?"

Nah, jawaban dari pertanyaan itulah yang disebut Break-Even Point atau Titik Impas.

BEP adalah kondisi di mana bisnis Anda tidak mengalami keuntungan, tapi juga tidak mengalami kerugian6. Semua biaya yang Anda keluarkan (Total Biaya) jumlahnya sama persis dengan semua uang yang Anda dapatkan (Total Pendapatan)7777.

Mengapa ini penting?

  • Ini adalah target penjualan minimal Anda agar tidak rugi.

  • Jika penjualan Anda melebihi titik BEP, barulah Anda bisa tersenyum karena di situlah letak keuntungan Anda

  • Ini membantu Anda merencanakan target laba. Mau untung Rp 5 juta? Analisis BEP bisa bantu hitung berapa banyak produk yang harus Anda jual.

"Ramuan" Matematika di Balik BEP

Untuk menemukan angka BEP yang ajaib itu, kita butuh "ilmu matematika" yang sebenarnya sederhana, yaitu Fungsi Linier11.

Jangan pusing dulu! Sederhananya, kita hanya perlu menghitung tiga hal:

  1. Biaya Tetap (Fixed Cost/FC): Ini adalah biaya "keras kepala" yang harus Anda bayar, tidak peduli usaha Anda laku atau tidak. Contoh: sewa ruko, gaji pegawai tetap, biaya langganan internet.

  2. Biaya Variabel (Variable Cost/VC): Ini adalah biaya "fleksibel" yang besarannya tergantung pada seberapa banyak Anda produksi. Contoh: bahan baku (biji kopi, susu, gula), cup, sedotan, upah tenaga kerja per produk

  3. Pendapatan (Revenue/R): Ini adalah total uang yang Anda dapatkan dari hasil penjualan (Harga Jual per unit dikali Jumlah unit terjual).

Rumus-rumus inilah yang dipelajari di mata kuliah Matematika Ekonomi. Dan seperti yang bisa ditebak, inilah bagian yang awalnya bikin mahasiswa garuk-garuk kepala.

Solusi Jitu: "Turun Gunung" ke Pelaku Usaha

Peneliti di IAIDA tidak tinggal diam melihat kebingungan ini. Mereka menerapkan metode "one-shot case study".

Caranya? Setelah teori fungsi linier diberikan di kelas, mahasiswa tidak hanya diberi soal di atas kertas. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi tugas untuk... "turun gunung"!

Ya, mereka diminta melakukan praktek langsung menganalisis BEP pada para pelaku ekonomi (pedagang, warung, usaha kecil) yang ada di sekitar lingkungan kampus.

Mereka harus wawancara, mencari tahu berapa biaya tetap (sewa, dll), biaya variabel (bahan baku, dll), dan pendapatan harian si pelaku usaha. Dari data nyata itu, mereka harus menghitung:

  • Berapa titik impas usaha tersebut?

  • Berapa minimal produk yang harus dijual agar tidak rugi?

  • Berapa yang harus dijual jika ingin untung sekian rupiah?

Hasilnya? Diluar Dugaan, Mahasiswa Jadi Semangat!

Awalnya mungkin sulit, tapi apa yang terjadi selanjutnya sangat positif.

  1. Respon Positif (76,25%): Mahasiswa memberikan respon yang baik dan positif terhadap metode belajar ini.

  2. Aktivitas Meningkat (77,27%): Keaktifan mahasiswa, mulai dari berdiskusi, bertanya, hingga mengerjakan tugas, terlihat meningkat selama observasi.

  3. Partisipasi Paling Juara: Dari semua variabel yang diukur (persepsi, sikap, dan partisipasi), komponen partisipasi mahasiswa adalah yang paling dominan (tertinggi).

Apa artinya? Mahasiswa ternyata jauh lebih semangat dan antusias ketika mereka melakukan praktek analisis BEP langsung ke pelaku ekonomi. Skor observasi untuk aktivitas "praktek langsung" ini bahkan mencapai rata-rata 81,96%, yang tertinggi dibanding aktivitas lainnya.

Pelajaran Penting dari Lapangan

Tentu saja, praktek di lapangan tidak semulus teori. Mahasiswa menemukan tantangan nyata. Misalnya, mereka bingung ketika menemukan pelaku usaha yang menjual banyak sekali produk (contoh: warung makan dengan 20 menu). Menghitung BEP untuk satu produk saja sudah rumit, apalagi banyak.

Tapi justru di situlah letak pembelajarannya.

Mahasiswa akhirnya sadar bahwa matematika yang mereka pelajari di kelas bukanlah rumus mati. Itu adalah alat yang benar-benar dipakai di dunia nyata. Mereka jadi paham mengapa mereka harus belajar fungsi linier.

Pada akhirnya, studi ini membuktikan bahwa pembelajaran dengan praktek langsung ke dunia usaha membuat konsep yang rumit (seperti fungsi linier dan BEP) jadi jauh lebih mudah dipahami dan relevan bagi mahasiswa.

Jadi, buat Anda yang masih menganggap matematika itu "momok", ingatlah: matematika di ilmu ekonomi adalah alat bantu. Begitu Anda membawanya ke lapangan dan melihat bagaimana ia bisa membantu warung di sebelah kampus Anda menghitung keuntungan, "momok" itu bisa berubah jadi "asyik".