Penelitian

Jago Tulis "Diketahui, Ditanya", Tapi Bingung Mengerjakan: Studi Ini Mengungkap Titik Lemah Siswa Saat Nalar Kritis Matematika

04 November 2025 | 90 views | NAWAL IKA SUSANTI
Jago Tulis "Diketahui, Ditanya", Tapi Bingung Mengerjakan: Studi Ini Mengungkap Titik Lemah Siswa Saat Nalar Kritis Matematika

Bagi kebanyakan siswa, Matematika sering jadi momok. Bukan cuma karena rumusnya yang banyak, tapi karena soal-soalnya seringkali butuh "nalar kritis". Anda tidak bisa cuma menghafal rumus, Anda harus tahu kapan dan bagaimana menggunakannya.

Salah satu "monster" dalam pelajaran Matematika SMA adalah bab "Suku Banyak" (Polinomial). Ini adalah topik yang penuh dengan f(x), g(x), pembagi, sisa pembagian, dan teorema-teorema yang bikin pusing.

Nah, pernahkah Anda penasaran, saat siswa dihadapkan pada soal Suku Banyak yang rumit, di bagian mana sebenarnya mereka "jatuh"? Apakah mereka tidak tahu rumusnya? Salah hitung? Atau bingung sejak awal?

Sekelompok peneliti (Nawal Ika Susanti dan Muhammad Hasan Asnawi) dari Universitas KH. Mukhtar Syafaat Blokagung melakukan sebuah studi menarik. Mereka ingin "membedah" kemampuan berpikir kritis 30 siswa kelas XI IPA 3 di SMA Darussalam saat mengerjakan 5 soal esai Suku Banyak.

Tujuannya bukan cuma mencari nilai benar atau salah, tapi untuk menemukan di mana letak kesulitan mereka.

"Medical Check-Up" Nalar Kritis Siswa

Untuk tahu seberapa kritis nalar siswa, penelitian ini menggunakan 4 indikator utama. Anggap saja ini 4 level yang harus dilewati siswa untuk setiap soal:

  1. Level 1: Identifikasi

    • Versi simpel: "Siswa ngerti nggak sih, soal ini tentang apa?"

    • Detail: Bisakah siswa mengidentifikasi apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan?

  2. Level 2: Analisis

    • Versi simpel: "Siswa tahu nggak harus pakai jurus apa?"

    • Detail: Bisakah siswa menganalisis masalah dan memilih konsep atau rumus yang tepat untuk menyelesaikannya?

  3. Level 3: Solusi (Problem Solving)

    • Versi simpel: "Siswa bisa ngitungnya nggak?"

    • Detail: Bisakah siswa menerapkan rumus itu dengan benar dan melakukan perhitungan tanpa salah?

  4. Level 4: Evaluasi

    • Versi simpel: "Siswa yakin nggak sama jawabannya?"

    • Detail: Bisakah siswa memeriksa kembali pekerjaannya dan menarik kesimpulan yang tepat dari hasil hitungannya?

Hasil Temuan: Jago di Awal, "Jatuh" di Tengah

Setelah semua 30 siswa mengerjakan 5 soal esai, hasilnya sangat mengejutkan dan memberi kita gambaran yang sangat jelas.

Kabar Baiknya: Siswa-siswa ini ternyata jago di Level 1 (Identifikasi).

Rata-rata, 80% siswa berhasil dengan sempurna menuliskan "Diketahui" dan "Ditanya". Mereka paham apa yang diminta oleh soal.

Kabar Buruknya: "Pesta" berhenti di situ. Kemampuan mereka "jatuh" drastis begitu masuk ke Level 2, 3, dan 4.

Dari lima soal yang diberikan:

  • Siswa hanya dianggap "Berpikir Kritis" (mampu melewati 4 level) pada soal nomor 1 dan 3, yang kebetulan adalah soal kategori mudah.

  • Di tiga soal lainnya (termasuk soal tersulit nomor 2), mereka gagal dan dikategorikan "Kurang Kritis".

Di Mana Tepatnya "Kecelakaan" Itu Terjadi?

Inilah bagian paling menarik dari penelitian ini. Kenapa mereka gagal?

1. "Pembunuh" Utamanya: Salah Hitung!

Ini adalah temuan terbesar. Pada soal nomor 2 (soal tersulit di mana 53% siswa salah), masalahnya bukan karena siswa tidak tahu rumus. Sebagian besar siswa tahu bahwa mereka harus menggunakan "Metode Horner" atau "Pembagian Bersusun".

Mereka "jatuh" di Level 3 (Solusi). Mereka salah dalam perhitungan dasar!

  • Salah mengalikan.

  • Salah menjumlahkan, terutama saat bertemu angka negatif.

  • Kurang teliti saat menurunkan angka.

Mereka tahu caranya, tapi mereka tidak akurat dalam mengeksekusinya.

2. Salah Pilih "Jurus" (Analisis yang Gagal)

Di soal lain (seperti nomor 5), banyak siswa "jatuh" di Level 2 (Analisis). Mereka salah mengartikan soal, sehingga mereka memilih rumus atau metode yang salah sejak awal. Tentu saja, jawabannya pun jadi salah total.

3. Tidak Menyelesaikan Sampai Tuntas

Banyak juga siswa yang gagal di Level 4 (Evaluasi). Mereka berhenti di tengah jalan. Mereka sudah menemukan nilai 'x', misalnya, tapi lupa bahwa soal sebenarnya meminta mereka mencari "sisa pembagian". Mereka tidak mengevaluasi apakah jawaban mereka sudah sesuai dengan permintaan soal.

Kesimpulan: Ini Bukan Soal Hafalan, Ini Soal Latihan Nalar

Studi ini adalah "tamparan" yang menyadarkan. Masalah siswa kita dalam matematika bukan murni soal "tidak hafal rumus".

Masalah terbesarnya ada pada proses berpikir kritis:

  • Mereka jago mengidentifikasi masalah di permukaan (Level 1).

  • Tapi mereka lemah dalam menganalisis (Level 2), sangat ceroboh dalam berhitung (Level 3), dan sering lupa mengecek ulang pekerjaan mereka (Level 4).

Ini menjadi PR besar bagi dunia pendidikan. Siswa tidak cukup hanya diberi rumus untuk dihafal. Mereka harus lebih sering dilatih untuk menggunakan rumus itu dalam berbagai skenario, dilatih ketelitiannya, dan dibiasakan untuk selalu mengevaluasi hasil kerja mereka sendiri.