Publikasi

Dosen Sudah Melek Digital, Tapi Siapkah Mereka untuk Mahasiswa Disabilitas?

28 July 2025 | 248 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Dosen Sudah Melek Digital, Tapi Siapkah Mereka untuk Mahasiswa Disabilitas?

Di zaman serba digital ini, kita berasumsi bahwa para pengajar, terutama di tingkat universitas, sudah jago menggunakan teknologi. Mereka mahir membuat materi presentasi, menggunakan platform e-learning, dan mengelola kelas online. Tapi, sebuah pertanyaan penting muncul: apakah "melek digital" itu sudah cukup untuk menciptakan pendidikan yang benar-benar inklusif bagi semua mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki disabilitas?

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di European Public & Social Innovation Review mencoba menjawab pertanyaan ini. Studi ini melihat secara spesifik kompetensi digital para dosen di universitas-universitas Ekuador, terutama dalam konteks pengajaran mahasiswa disabilitas.

Para peneliti melakukan survei terhadap 164 dosen, meminta mereka menilai sendiri kemampuan digital mereka dalam berbagai aspek yang berkaitan dengan inklusivitas. Hasilnya cukup mengejutkan dan bisa menjadi cerminan bagi kita semua.

Kabar Baik: Dosen Paham Konsep, Tapi...

Kabar baiknya, secara umum para dosen merasa cukup percaya diri. Sekitar 58% dari mereka merasa memiliki kompetensi digital "umum" yang baik. Mereka juga cukup paham (51%) tentang layanan dukungan apa saja yang tersedia di universitas untuk mahasiswa disabilitas.

Artinya, secara konsep, para dosen ini "sadar" akan adanya mahasiswa disabilitas dan ke mana harus mengarahkan mereka jika butuh bantuan.

Celah yang Menganga: Kurangnya Keterampilan Teknis

Di sinilah letak masalahnya. Ketika pertanyaan beralih dari "tahu" menjadi "bisa melakukan", nilainya langsung anjlok. Para dosen ternyata sangat tidak percaya diri dalam keterampilan teknis spesifik untuk membantu mahasiswa dengan kebutuhan khusus.

Bayangkan, mayoritas dosen mengaku "gagap" dalam hal-hal berikut:

  1. Aksesibilitas (70% merasa tidak mampu): Ini adalah angka terburuk. Sekitar 76% dosen bahkan tidak tahu cara menguji apakah materi digital (seperti PDF atau website) yang mereka buat bisa diakses oleh mahasiswa dengan disabilitas.

  2. Disabilitas Pendengaran (69% merasa tidak mampu): Keterampilan praktis sangat kurang. Contohnya, 86% dari mereka mengaku tidak tahu bahasa isyarat.

  3. Disabilitas Penglihatan (65% merasa tidak mampu): Para dosen kesulitan membantu mahasiswa tuna netra. Sekitar 75% dosen tidak tahu teknologi apa yang bisa dipakai untuk membantu mereka mengakses materi hitungan seperti aritmatika.

  4. Disabilitas Motorik (63% merasa tidak mampu): Hal simpel seperti mengenali jenis-jenis keyboard khusus untuk mahasiswa dengan keterbatasan gerak pun sulit. 77% dosen mengaku kesulitan dalam hal ini.

  5. Disabilitas Kognitif (59% merasa tidak mampu): Para dosen bingung bagaimana membuat materi yang adaptif. Sekitar 73% tidak tahu software apa yang bisa digunakan untuk membuat materi yang disesuaikan.

Penelitian ini menunjukkan adanya "celah" besar antara prinsip inklusi yang digaungkan universitas dan pelatihan nyata yang diterima dosen.

Solusi yang Ditawarkan: Bukan Cuma Teori, tapi Praktik

Kabar baiknya, penelitian ini tidak berhenti di temuan masalah. Para peneliti juga mengusulkan sebuah rencana strategis berdurasi 10 bulan untuk para dosen.

Rencana ini bukan sekadar seminar sehari. Ini adalah program pelatihan komprehensif yang dibagi menjadi empat tahap:

  1. Fase 1: Diagnosis (Bulan 1): Mencari tahu kebutuhan spesifik setiap dosen.

  2. Fase 2: Pelatihan (Bulan 2-6): Memberikan pelatihan intensif dalam 7 modul, termasuk modul khusus untuk aksesibilitas, pendengaran, penglihatan, motorik, dan kognitif.

  3. Fase 3: Implementasi (Bulan 7-8): Dosen langsung mempraktikkan ilmu barunya di kelas.

  4. Fase 4: Evaluasi (Bulan 9-10): Mengecek kembali kemajuan para dosen setelah pelatihan.

Apa Artinya Ini Bagi Kita?

Studi di Ekuador ini adalah pengingat penting. Di Indonesia pun, "Pendidikan Inklusif" sering menjadi slogan. Namun, kita perlu bertanya: sudahkah dosen-dosen kita dibekali keterampilan praktisnya?

Menjadi dosen yang "melek digital" di tahun 2025 bukan lagi hanya soal bisa memakai Zoom atau membuat PowerPoint. Ini soal memastikan bahwa setiap mahasiswa, tanpa memandang kondisi fisiknya, bisa mengakses materi yang kita buat. Universitas memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya membeli teknologi, tetapi juga melatih pengajarnya agar teknologi itu benar-benar bermanfaat bagi semua.