Pengabdian Masyarakat

Bangkitnya Semangat Pemuda Bangsring: Menyulap Kaos Sablon Jadi Kunci Perekonomian Desa Wisata!

11 March 2025 | 450 views | M. RIZQON AL MUSAFIRI
Bangkitnya Semangat Pemuda Bangsring: Menyulap Kaos Sablon Jadi Kunci Perekonomian Desa Wisata!

Desa Bangsring di Banyuwangi, siapa yang tak kenal? Terletak di ujung timur Pulau Jawa, desa ini bak surga wisata bahari, dengan ikon terkenalnya, Bangsring Under Water (BUNDER), yang memiliki keindahan terumbu karang dan rumah apung yang memukau. Potensi wisata yang melimpah ini seharusnya menjadi lumbung ekonomi bagi warga setempat, tetapi ada satu masalah kecil yang selama ini terabaikan: oleh-oleh khasnya!

Mengapa Kaos Khas Bangsring "Impor" dari Luar?

Coba bayangkan, Anda datang ke BUNDER, menikmati keindahan bawah lautnya, dan pasti ingin membawa pulang suvenir sebagai kenang-kenangan. Kaos sablon dengan desain ikonik Bangsring adalah pilihan utama.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang cukup ironis: kaos-kaos yang dijual sebagai ciri khas Bangsring justru diambil atau "diimpor" dari luar kota. Padahal, Bangsring sebenarnya sudah memiliki komunitas sablon di kalangan pemudanya, hanya saja sempat vakum dan kurang terasah keterampilan menyablonnya. Kondisi ini tentu membuat potensi ekonomi desa tidak tergarap maksimal.

Inilah celah yang akhirnya direspons oleh tim pendampingan: membangkitkan kembali semangat pemuda dan komunitas sablon yang mati suri!.

? Solusi: Pemberdayaan Pemuda dengan Jurus Jitu ABCD

Untuk mengatasi masalah ini, tim pendampingan memilih pendekatan yang unik dan memberdayakan, yaitu metode Asset Based Community Development (ABCD). Inti dari ABCD adalah fokus pada aset, potensi, dan kekuatan yang sudah dimiliki oleh masyarakat, bukan hanya berpusat pada kekurangan atau masalahnya saja.

Di Desa Bangsring, aset yang ada sudah jelas:

  1. Potensi Wisata yang Besar: Menjamin adanya pasar dan permintaan yang tinggi akan oleh-oleh.

  2. Komunitas Sablon yang Pernah Ada: Menunjukkan adanya minat dan potensi sumber daya manusia.

  3. Peralatan Sablon Sudah Tersedia: Bantuan dari Dinas Pariwisata Banyuwangi sudah ada, tinggal digunakan.

Melalui pendekatan ini, tujuannya adalah memberdayakan pemuda agar memiliki keterampilan berwirausaha di bidang sablon kaos, sehingga mereka bisa menjadi produsen utama oleh-oleh khas desa mereka sendiri.

?? Dari Vakum Menjadi "Kalambhi Bangsring"

Proses pemberdayaan ini tidak dilakukan secara instan. Menggunakan 4 tahap dalam metode ABCD (Discovery, Dream, Design, Destiny), tim pendampingan melakukan serangkaian kegiatan:

  • Discovery (Menggali Potensi): Melakukan observasi dan wawancara untuk mencatat kelebihan dan potensi, serta mengonfirmasi bahwa UMKM masih mengambil kaos dari luar.

  • Dream (Merumuskan Harapan): Bersama pelaku UMKM dan pemuda, merumuskan harapan untuk memiliki produk kaos khas Bangsring buatan sendiri.

  • Design (Merancang Strategi): Mulai merumuskan strategi, proses, sistem, dan merancang desain kaos khas. Salah satu hasilnya adalah desain ikonik Mercusuar Lampu Putih.

  • Destiny (Implementasi Berkelanjutan): Pemuda mulai menjalankan kegiatan sablon, melakukan uji coba, dan terus berinovasi.

Hasilnya? Terbentuklah komunitas sablon kaos khas Bangsring dengan brand keren: Kalambhi Bangsring. "Kalambhi Bangsring" ini kini menjadi satu-satunya produsen kaos khas Bangsring yang memasok produknya kepada UMKM lokal di tempat-tempat wisata. Mereka bahkan memperluas jangkauan dengan pemasaran online.

? Dampak Nyata untuk Perekonomian Lokal

Keberhasilan program ini bukan hanya tentang membuat kaos, tetapi tentang meningkatkan kualitas SDM dan menggerakkan roda ekonomi desa.

  1. Pendapatan Lokal Meningkat: Dana yang tadinya mengalir ke luar kota untuk membeli stok kaos kini berputar di Desa Bangsring.

  2. Pemuda Lebih Berdaya: Memberikan wadah dan semangat berwirausaha bagi pemuda, mengubah mereka dari kelompok vakum menjadi aktor utama perubahan.

  3. Identitas Lokal Kuat: Adanya brand dan desain kaos yang diproduksi sendiri memperkuat identitas Bangsring sebagai desa wisata.

Pendampingan ini membuktikan bahwa Desa Bangsring memiliki potensi yang harus terus digali dan dikembangkan. Dengan dukungan dari berbagai pihak—termasuk Kepala Desa, Karang Taruna, dan pelaku UMKM—semangat wirausaha pemuda Bangsring akan terus berlanjut, bahkan setelah kegiatan pendampingan selesai.

Inilah kisah nyata bagaimana potensi lokal yang sempat tertidur bisa dibangunkan, memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat, terutama dalam memajukan produk UMKM khas desa wisata!.